Eksplorasi Situs Benteng Pulau Cingkuak : Pengembangan Sumber Belajar Sejarah Lokal Berbasis Nilai Kemaritiman dan Perlawanan Kolonial
Keywords:
Pulau Cingkuak, Sejarah Lokal, Nilai Kemaritiman, Perlawanan Kolonial, Sumber Belajar.Abstract
Pembelajaran sejarah di lembaga pendidikan formal tingkat menengah sering kali terjebak dalam narasi makro yang berpusat pada episentrum politik nasional, sehingga memicu terjadinya alienasi historis di kalangan peserta didik terhadap potensi sejarah di wilayah mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk eksplorasi secara mendalam situs sejarah Benteng Pulau Cingkuak yang terletak di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat, untuk kemudian ditransformasikan menjadi sumber belajar sejarah lokal berbasis nilai kemaritiman dan rekam jejak perlawanan kolonial. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode sejarah yang meliputi empat tahapan baku (heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi) yang diintegrasikan dengan model pengembangan instruksional pedagogis, studi ini mengumpulkan data melalui studi literatur mendalam, observasi langsung di lapangan, serta wawancara terstruktur bersama sejarawan, arkeolog, dan budayawan lokal. Hasil eksplorasi historis menunjukkan bahwa sejak pertengahan abad ke-17 hingga abad ke-18, Pulau Cingkuak memegang peranan krusial sebagai pangkalan logistik ekonomi, gudang komoditas lada, dan pangkalan militer vital bagi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di kawasan Pantai Barat Sumatra. Eksistensi situs ini tidak hanya merekam aktivitas niaga global, melainkan juga menyimpan memori kolektif mengenai perlawanan bersenjata para penguasa dan masyarakat lokal terhadap monopoli dagang kolonial yang opresif. Temuan riset ini kemudian dikonversikan menjadi produk bahan ajar berupa modul pengayaan sejarah lokal untuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas XI yang disesuaikan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Melalui integrasi materi ini, diharapkan dapat menstimulasi kemampuan berpikir kritis, penalaran historis (historical reasoning), serta menumbuhkan empati sejarah (historical empathy) dan kesadaran identitas kultural peserta didik secara berkelanjutan.